Selalu ada yang baru dari Yogyakarta..
Seperti pekan lalu saya kembali menginjakkan kaki disana, dan segera paham, kota ini bergeliat..agak ke arah modernisasi yang tergencet budaya, tak karuan, tapi tetap asyik.
Dimulai dengan tambahan opsi wisata.
Biasanya saya semangat kembali ke museum Ullen Sentalu yang terletak di Kaliurang. Ini daerah kaki gunung Merapi yang sejuk serta bertebaran banyak vila. Mulanya sih nggak perhatian juga sama papan nama penginapan atau vila tadi, tapi teman seperjalanan menggaris bawahi pada "fasilitas" yang dipajang.
Selalu ada "TV" dan "kamar mandi dalam"... hehehe...
Nggak dimana deh, daerah dingin dikit, langsung bisnis lendir menjamur...(bahasanya lampu ijo banget).
Tapi bukan bisnis "itu" yang nambah opsi wisata. Turun sedikit sebelum gerbang Kaliurang, mampirlah ke desa Kinahrejo. Yeps, secara asal tur ini dinamakan "wisata bencana". Kinahrejo mendadak terkenal setelah gunung Merapi memuntahkan sepersekian isinya 2010 silam, dan membumi hanguskan apa saja yang dilewati, termasuk desa malang ini.
Mulanya saya dan kawan ragu, "etis ngak sih orang berduka kita jadiin objek wisata?"
Yaa nggak lama-lama terjawab juga. Setelah melewati sajian pertama berupa jembatan meliuk tajam-di bawahnya kali arus deras berbatu-tanpa pagar pembatas itu, 50 meter sesudahnya, ada laki-laki meminta sumbangan dengan menyodorkan kardus bekas air mineral.
Kami tabah menolak halus.
100 meter kemudian...ada pungutan lagi! Tapi ini resmi sodara-sodara, minimal petugas kompakan pakai seragam kuning dan ada tiket masuk sebesar tiga ribu rupiah per orang. Kami tidak merasa bersalah lagi deh. Toh penduduk desa sudah legowo dan menarik sisi baik setelah bencana..
Jalanan menanjak, kanan-kiri berdiri rumah penduduk atau dulunya rumah. Jika atapnya utuh, terlihat bekas abu menutup tipis genteng merah bata itu. Tumbuhan masih mini, ilalang gosong banyak terlihat di ladang kosong, dan gunung Merapi semakin jelas kokoh berdiri di depan.
Makin semangat naik, yak...pungutan lagi (Indonesia banget deh)...Kali ini judulnya "tiket parkir" sebesar lima ribu rupiah satu mobil. area kosong dijadikan lahan parkir, kami turun. Sampai sini, tidak heran juga kenapa desa Kinahrejo terhantam amukan Merapi. Jika beruntung seperti kami, gunung Merapi bisa terlihat jelas sampai ke puncak.
Ya iyalaaaaah, tiga kilometer ajah jaraknya dari puncak, hanya Tuhan dan Malaikat yang tahu bagaimana nasib Anda nekat tinggal sedekat ini dengan gunung terganjen sedunia macam Merapi.
Tapi memang kreasi Tuhan tidak bertepi. Beneran kereeeeen ngeliat Merapi dari deket. Batu kerucut yang puncaknya dikelilingi awan putih, berlatar langit biru bersih. Merapi juga berasap, seolah bernapas..auranya angkuh, tapi kalem dalam diamnya..
Semoga mbah Maridjan tenang dalam kesejukan Kinahrejo.
Selain wisata bencana, tidak ketinggalan wisata makan. Menurut saya, kuliner Yogya itu muter aja sekitar gudeg, pecel, angkringan, sama sajian coba-coba. Tapi yang menarik ada di pengemasan, cara menyajikan, atau nama yang serba nggak jelas.
Contohnya ini, restoran Raminten. Menurut teman, restoran ini dimiliki waria bernama Raminten. Lebih menarik di kunjungi malam, karena lampu dekorasi resto menyala ramai, tidak hanya di ruangan resto, tapi juga di tubuh pelayan!
How come??
Jadi pelayan di Raminten ini seragamnya berupa dasi kupu-kupu dan kain basahan, ajah. So, si pelayan laki ini melayani Anda sambil memamerkan tubuh atasnya. Nah, malam tiba, tubuh atasnya di lingkari lampu hias..sumpah, banci abis.
Kalau bukan karena janjian sama teman lama, saya emoh kesana. Siang bolong akhirnya kami sambangi Raminten. Teras resto dipenuhi kereta kuda, tanpa kudanya. Hiasannya seperti asal, entah ya apa saja yang di tempel, yang penting rame.
Saya agak lega begitu masuk si pelayan yang diceritakan setidaknya tengah memakai rompi putih berpadu kaus hitam ketat. Ada juga pelayan perempuan yang menggunakan dodot satin dan rambut konde cepol.
Tiba memesan makanan...
Karena kami duduk lesehan di meja panggung, pelayan perempuan menghampiri dan duduk di undakan panggung. Jadi si pelayan di bawah kami satu undakan dan asyik menulis pesanan sambil menyodorkan pundak-pundak mulusnya atau dengan kemayu menjawab setiap pertanyaan saya. Hadeeeeh...
Kacau lagi waktu ke toilet. Papan penunjuk arah mengarahkan kami ke....kandang kuda! saya disambut kuda cokelat besar sedang memamah biak. Disamping istal si kuda ada tulisan "beware of this horse/awas kuda ini galak". Nggak cuma satu kuda lho, tapi ada dua..tiga..empat..lima kuda...ahai! saya kegirangan.
Masalah intinya, ada dimana toilet tersebut? yak, nyelip di antara istal kuda pertama dan kedua, yang satu lagi ngumpet di antara istal ketiga dan keempat.
sambil nunggu teman ke toilet, saya colongan cari kuda yang bersahabat. Kuda di istal kedua dengan kalem membiarkan saya mengelus hidungnya. Keseluruhan istal membentuk huruf U dan ditengahnya menjadi tempat cuci piring.
Absurd se-absurd Raminten.
Akhirnya saya tahu Raminten adalah pemilik toko retail besar di Yogya, Mirota. Ibarat perusahaan multinasional, Mirota menjamur lintas sektor. Ada Mirota batik (jualan batik), Mirota Kampus (keperluan anak kuliahan), dan Mirota Bakery (aneka roti). Pasal doi waria, saudara saya yang Yogya indeed menyatakan dia sebenarnya cowo tulen, punya anak-istri. Cuma hobi dandan perempuan, entah untuk sensasi atau meresapi.
Unsur kebaruan juga muncul di bandara Adi Sutjipto. Rupanya bandara yang bersisian dengan pangkalan Angkatan Udara RI (AURI) ini telah berstatus Bandara internasional.
Berdasarkan pelajaran bandara Lombok, kalau mau naik kelas jadi Internasional, ada beberapa persyaratan. Misalnya kondisi landasan yang memungkinkan semua tipe pesawat mendarat. Kalau Airbus A380 yang maha besar itu, jelas butuh landasan nggak cuma 100 meter donk? Lalu area parkir pesawat juga perlu di perbanyak. Paling tidak delapan pesawat bisa menginap bersamaan.
Saya masuk ke area parkir bandara. Masih sama. Masuk pintu bandara..mulai terlihat perbedaannya.
Dulu pintu masuk ini belum ada, sekarang pintu masuk langsung menukik ke area basement. Kita bisa menuruni tangga berjalan, atau turunan manual dengan karpet karet di tengahnya. jalan mendatar sebentar, mulai menanjak....dan...sampai ke lobi bandara persis!
Rupanya pintu masuk bandara dimajukan supaya lebih mendekat ke stasiun kereta api yang mengarah ke Solo. Jadi bandara Adi sutjipto kini terintegrasi dengan moda kereta api. sip..sip.
Gimana kabar landasan? wah saya nggak ngitung panjang sebelum dan sesudah status internasional. Tapi yang jelas bandara ini sibuuuuk. Saya datang jam setengah 9 pagi untuk menjemput tante yang mendarat jam 9.20.
Selama 50 menit melototin di anjungan, tiga pesawat Garuda Indonesia mendarat dan lepas landas. Satu yang parkir malah pilotnya sempet-sempetnya ngerokok. Ditambah pesawat Batavia Air dan Air Asia mendarat, pesawat Wings Air dan dua pesawat AURI lepas landas, terakhir, datanglah pesawat Lion Air yang ditumpangi tante saya.
Tante saya cerita, jam 9 pagi pesawat sudah masuk zona udara Yogyakarta, tapi pesawat terus muter sambil nunggu jatah turun saking sibuknya itu landasan. Apakah ini dampak dari "internasionalisasi" bandara? mbuh yoo...
Menjemput tante berarti selesai juga perjalanan saya kali ini ke Yogya. Dibilang kurang, ya kurang, tapi lebih dari lima hari, pasti bingung sendiri.
Seperti slogannya, "Yogyakarta never ending Asia", saya tambahin "just end it before you get bored".
antasena versi jelita
Atas nama kebebasan, tulisan suara hati untuk kebengalan hari ini dan selamanya.
Rabu, 30 November 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
Aneka Ria Karyawan (1)
Huaaaaaa
Mati gaya!
ampun deh kerja macam apa ini, nggak kepingin-kepingin amat nyelesaikan kerjaan numpuk begini. Padahal kalo udah deadline, saya juga yang diuber-uber. Tapi ide cemerlang justru mampir kala kepepet..
*mental mahasiswa*- halah!
Tidak ada bos, senang bukan main, tapi bengong-bengong juga. Ada bos berharap dia meeting teruuuus seharian.
Pagi tadi my moron bosses (berarti atasan langsung), mengirim pesan singkat-dengan huruf kapital semua-dia mengiba dan panik- Begini isinya :
"TIKETKU UJUNG PANDANG - JKT KOK ADA MASALAH KATANYA ADA YG MEMBATALKAN DRI AGEN PEMESANAN TIKET HP NO 0815993XXXX. TLG DI CEK DAN BANTU USAHAKAN SPY BERES"
Mampuuuuus!!
Yeyeyeye, senyum licik merekah di bibir, dan saya bertekad, no help for you ye pak. Rasakan terdampar di Sulawesi sampe jadi spesies yang hilang dari garis Wallacea.
Dari pengalaman kerja yang serba short atau long. Baru sekali ini punya atasan ajaib macam my moron bosses ini. Udah jauh-jauh berniat emoh urusan sama birokrat, eeeeh, dapet mantan birokrat.
Nggak tanggung-tanggung, manusia ini terakhir tercatat sebagai direktur eselon sekian, di kementerian, errr, sebut saja, peribetan. Bodo amat dulu dia pejabat, hellooo???! lo juga dibayar pake pajak gw-gw orang..huh!
Dari sekian banyak kepiawaiannya (yang tentu saja dipelajari selama jadi birokrat), saya salut dengan kemampuannya membangun citra diri. Dalam lingkungan kantor, semua karyawan menilai dia baik hati, suka memberi, jenaka, macam jebolan srimulat.
Malah ada yang saking ngefansnya, cewe ini bilang ke saya "gw mau donk jadi anaknya bapak-lo"
Jiah, monggo kerso mbakyu. Rasakan dekapan berbisa ala sang bapak.
Dari awal pun saya merasa tak sreg dengan manusia ini. Kalau menjelaskan sesuatu harus diulang lima kali,
"dek, tolong cek-en (bukan check-in) laporan ini ya. Itu suka salah ejaannya. eh, itu juga huruf-hurufnya, kalo ada yang salah. Jangan lupa ya dek, itu laporan baru saya buat, spelling jangan lupa...."
Begitu terus sampai saya tinggal.
Belum lagi gengsinya. Suatu hari waktu nebeng my big bosses (ini berarti direktur). Mobil big bosses adalah sedan mewah buatan Eropa keluaran terbaru. Merk sama sih kaya mobil moron bosses, tapi doi keluaran tahun 97-an. ya beda lah yaaa...
Saya duduk di jok depan yang terlalu maju. Karena norak, maka saya bertanya pada pak supir, "pak, mundurinnya gimana nih?"
Big bosses : (duduk di belakang saya) itu ada di pintu, terserah enaknya kamu mau ngatur gimana..bla..bla..bla (sambil jelasin fungsi masing-masing tombol)
Moron bosses : (ngomong kenceng motong si big bosses) itu sama aja kok dek kaya mobil saya.
dhuaaar! Kaga mau kalah banget sih luuuw! dari aspek teknis aja udah jelas-jelas beda. tombol ngatur seat mobil rikiplik sampeyan mah masih manual di samping kursi! beda sama mobil anyar si big boss yang easy to handling di pintu, tinggal pencet...
Udah gitu ni makhluk paling susah mudeng. Padahal masih ngak ngerti yang diomongin apaan, tapi dia cuek aja ngasih perintah ini-itu. Yang paling kena sih waktu mau meeting bareng God Father kantor (banyak amat dewa di kantor gw). Big bosses emang biasa ribet di menit-menit terakhir, sampai muncul deh bbm ke manajer saya yang satu lagi,
BBM big bosses : tolong siapkan yang perlu di kasih liat God Fathers.
Manajer satu : apaan lagi ye? perasaan udah semua deh
Moron bosses : mungkin maksudnya pointers itu bu..
Saya : zzzzz
Manajer satu : masa God Fathers mimpin meeting begitu aja perlu pointers
Moron bosses : ya udah bikin aja. Dek, ketik dek, cepet ketik pointers.
Saya : (wong gendeng) depan netbook.
Manajer satu : ya udah deh. Kamu ketik aja pake template dari saya.
Saya : (kalo manajer satu yang nyuruh ya manut deh). yah ibu, maaf, netbook saya ngak bisa buka power point. Karena programnya windows starter.
Manajer satu : oh ya udah, nggak papa. Kita tanya lagi aja nanti.
Moron bosses : ayo dek, ketik, cepet, ini udah mau meeting.
Saya : (Tuhan, mbok itu kaca sebelah dia copot biar nyemplung ke kolam depan)
Manajer satu : pak, nggak bisa, karena..bla..bla..bla (menjelaskan soal windows starter)
Moron bosses : wah, kamu thu seharusnya programnya diinstal donk yang bisa buat semua. Itu kan kerjaan kamu. Gimana sih? yang bisa power point, excel.
Saya : ya dulu saya beli netbook ini kan karena kebutuhan saya cuma ngetik sama browsing pak.
Moron bosses : lho, itu kan di tempat kerja kamu dulu. Sekarang kamu disini...
Saya : (menatap dengan pandangan pingin makan orang)
Wong edan! Dia lupa apa ini properti pribadi gw..suka-suka saya donk mau diisi games semua sampe jebol juga bukan dia yang nyicil nih netbook. Dasar orang tua sialan! Dia bisa aja ngomong begitu, kalo netbook ini properti kantor...errrrrr
Tapi sekian bulan lewat pada akhirnya memberi saya ilmu menghadapi manusia dengan post power syndrom macam dia. Cukup iyakan saja, dan menjaga jarak, maka gesekan dapat berkurang sedikit-sedikit.
Bukannya dia tidak baik. Seringkali dia menraktir, memberi saya uang lembur atau angpao lebaran. Setiap pulang dari luar negeri, bawa oleh-oleh. Tapi sebagai pribadi, yeeeeks, no more birocracy..no more..
Satu jam sesudah lewat makan siang. sms masuk dengan huruf kecil,
"terimakasih untuk ujung pandang-jkt saya sudah dapat boarding pass"
Damned Garuda! hehehe...welcome abroad lah bapake...
(tetep ngarep pesawat mendadak batal berangkat)
Kamis, 13 Oktober 2011
Teori Warna
Pilihan warna menentukan karakter Anda. Setuju?
Bermula dari sore ini. Melepas penat dengan hilir mudik ke selasar kantor sambil menenteng teh dingin. Pandangan lepas saja kemana mata ingin. Tapi dasarnya saya masuk golongan psikologis warna putih (serba detail alias kepo), maka manusia yang melintas dekat saya secara terstruktur terpindai atas sampai bawah.
Karyawati tempat saya bekerja punya kecenderungan monoton. Mereka berpakaian -mbak kantoran banget- yang sekadar celana bahan dan kemeja. Beda dengan gedung sebelah yang menjadi markas majalah fashion, wanitanya tampil gaya minimal dengan ankle boots dan dress.
Toh kawan kantor saya tidak habis akal. Untuk mengekspresikan diri, mereka menggunakan warna-warni kuteks yang merias kuku kaki atau tangan. Selama saya bekerja, warna ceria macam hijau, biru, ungu muda, pink atau warna gelap seperti cokelat dan hitam, berseliweran sambil buru-buru mengejar bos.
Perlahan saya mulai bisa mengenali siapa orang ini dari kakinya saja! Teori dodol saya, warna ceria biasanya perempuan muda, dan kepribadiannya diam-diam ceria. Formalitas kantor sungguh mengunci pribadi bebas, sehingga warna stand out sedikit sudah mengundang cuap-cuap.
Saya senang saja melihat perempuan-perempuan ini cekikikan di toilet, dan dari balik selopnya mengintip kuku aneka warna.
Beda lagi dengan warna gelap atau merah. Mereka ini wanita yang setengah berumur dan entah kenapa, semuanya memilih single. Saya menyimpulkan golongan ini adalah mereka yang matang, merasa bukan saatnya lagi pecicilan, tapi juga menolak tua.
Lalu saya berhasil menebak kegilaan seseorang dari pilihan warna pakaian dalamnya! ini serius...
Bagi saya seseorang yang memilih merah, pasti ada sisi provokatif dalam dirinya. Entah apa, yang pasti ia ingin terlihat, mau dari bagian mana saja. Lalu saya shock setengah mati saat menemukan warna bra -mbak yang kerja di rumah- berwajah lugu dan mengaku polos itu, berwarna merah semua!
Belum ditambah dengan celana dalam motif macan tutul! Saya hakul yakin mbak satu ini punya sisi liar-seliarnya, omongannya tak bisa dipercaya.
Benar saja, tidak sampai seminggu, terbukti keluguannya cuma palsu. Dia mengambil barang pribadi saya yang remeh, dan kakak saya merasa kehilangan uang. Tertangkap basah pun dia tetap berwajah lempeng-dot-com.
Sekali lagi ilmu "don't judge from the cover" berlaku...
Tadi pagi ibu saya berkomentar singkat, "kamu kok bajunya gelap semua?" wah, saya perhatikan betul juga. Setelah dipikir-pikir, saya merasa tubuh ini agak tambun, sehingga perlu ditutupi. Lalu ada kesan agak serius kalau saya mengenakan padanan gelap.
Sesungguhnya saya suka biru. Katanya penggemar biru mirip-mirip dengan tenang, damai sekalian bumi dan langit, tapi kurang tegas. Nah saya jauh sekali dengan karakter itu. Saya fluktuatif, tidak menghindari konfrontasi kalau sudah sebal dan terlampau tegas atau keras.
Lalu kalau sudah begitu, yang salah karakternya, apa warna pilihannya....
Kamis, 01 September 2011
1432
I'ed Mubarak..Selamat hari raya lebaran..
Hari ini tepat "lebaran ke-2" bagi umat muslim yang merayakan Idul Fitri, menurut batasan pemerintah. Ini adalah perayaan setelah satu bulan menjalani bulan Ramadhan.
Idealnya bulan Ramadhan wajib diisi dengan puasa menahan lapar, haus, emosi negatif, selama 18 jam. Selain itu perbanyak beribadah, karena Tuhan tengah memberi obral ampunan dan rahmat kepada siapa saja yang meminta.
Jadi bagi umat muslim, dalam 12 bulan jatah hidupnya, 1 bulan adalah masa rehabilitasi setelah 11 bulan teracuni dengan kesalahan yang tampak-kasat mata, alpa-sengaja, enak-tak enak.
Itu urusan vertikal..untuk perkara horizontal, lebaran menambah gembira karena libur panjang telah tiba!
Satu pekan setiap perusahaan harus merelakan karyawannya merdeka, anak sekolah melupakan pekerjaan rumah, dan pekerja sektor rumah tangga jumawa di kampung halaman.
Tapi satu pekan ini tidak berlaku untuk saya.
Sebagai anak baru dalam perusahaan tempat bekerja sekarang, saya belum berhak mendapat cuti. Bisa saja saya berhutang setelah hak cuti saya turun tahun depan, tapi saya lebih memilih masuk kerja daripada lontang-lantung tak jelas di rumah kakak.
Kebanyakan orang yang tahu merasa iba pada nasib saya. Atau malah menyoroti perusahaan saya bekerja. Kurang lebih seperti "kantor nggak mau rugi", "tega, pelit", "kantor lo nggak ngerti apa ini cuti lebaran?"
Sebagai gambaran, saya bekerja untuk perusahaan dimana pribumi menjadi minoritas. Ibarat kantor pemerintahan yang sulit menemukan keturunan Cina, nah, di kantor saya berlaku kebalikannya.
Ini kali pertama saya merasakan menjadi minoritas, dan rasanya memang serba aneh. Mulai dari anatomi tubuh yang drastis perbedaannya, logat bicara yang kental aksen bahasa mandarin, atau etos kerja yang membuat rekan kerja saya amat disiplin dan fokus pada pekerjaan.
Tentu saja ini membuat saya gamang. Disiplin alamat silap buat saya. Satu menit saja terlambat, cela sudah daftar absensi saya. Begitu pula mengenakan kaus di luar hari Jumat, dan mengobrol dengan santai bisa mengundang tatapan aneh orang yang lewat.
Tidak heran prasangka tumbuh pelan-pelan dan ajeg. Walau ada sebagian rekan keturunan yang merasa "aku-kamu sama", atau malah ada teman saya yang dengan tegas mengucap "gue Indonesia".
Kembali pada hari ini. Saya melangkahkan kaki ke kantor yang amat sunyi sejak pagi. Rasanya teduh, melihat ibukota bebas dari bebannya sejenak. Tidak ada kemacetan, asap, dan orang berlalu-lalang tak peduli.
Saya mampir ke toilet, bertemu dengan satu enci yang supel. Ia mengulurkan tangannya dan berucap "minal aidzin wal faidzin"...
Terulang lagi saat saya duduk, rekan bagian IT menghampiri dan menjabat tangan saya. Seorang manajer proyek lewat, dan bertanya tegas "kamu lebaran?" saya iyakan, dan tangan kuatnya menjabat lagi. Ibu manajer yang menempati ruangan di hadapan saya keluar, dan melakukan hal yang sama. Ditambah ucapan staf HRD, bapak security, dan office boy.
Mereka semua apa yang saya katakan "rekan keturunan". Bagi saya lebaran kali ini justru amat bermakna karena saya menerima ucapan selamat, justru dari orang-orang yang saya tak kira akan melakukannya.
Saya percaya salah satu perintah Tuhan adalah menghormati sesama, lepas dari keyakinannya. Kebanyakan umat dan saya, terlalu sibuk beramal untuk sesama muslim, tapi lupa untuk memperkuat jalinan kepada sesama manusia.
Ternyata perusahaan ini tidak sejahat yang orang kira. Di setiap sudutnya masih ada manusia yang punya semangat "memanusiakan".
Selamat berlebaran, selamat menilik apakah Anda merayakan yang benar-benar Anda dapatkan...
Hari ini tepat "lebaran ke-2" bagi umat muslim yang merayakan Idul Fitri, menurut batasan pemerintah. Ini adalah perayaan setelah satu bulan menjalani bulan Ramadhan.
Idealnya bulan Ramadhan wajib diisi dengan puasa menahan lapar, haus, emosi negatif, selama 18 jam. Selain itu perbanyak beribadah, karena Tuhan tengah memberi obral ampunan dan rahmat kepada siapa saja yang meminta.
Jadi bagi umat muslim, dalam 12 bulan jatah hidupnya, 1 bulan adalah masa rehabilitasi setelah 11 bulan teracuni dengan kesalahan yang tampak-kasat mata, alpa-sengaja, enak-tak enak.
Itu urusan vertikal..untuk perkara horizontal, lebaran menambah gembira karena libur panjang telah tiba!
Satu pekan setiap perusahaan harus merelakan karyawannya merdeka, anak sekolah melupakan pekerjaan rumah, dan pekerja sektor rumah tangga jumawa di kampung halaman.
Tapi satu pekan ini tidak berlaku untuk saya.
Sebagai anak baru dalam perusahaan tempat bekerja sekarang, saya belum berhak mendapat cuti. Bisa saja saya berhutang setelah hak cuti saya turun tahun depan, tapi saya lebih memilih masuk kerja daripada lontang-lantung tak jelas di rumah kakak.
Kebanyakan orang yang tahu merasa iba pada nasib saya. Atau malah menyoroti perusahaan saya bekerja. Kurang lebih seperti "kantor nggak mau rugi", "tega, pelit", "kantor lo nggak ngerti apa ini cuti lebaran?"
Sebagai gambaran, saya bekerja untuk perusahaan dimana pribumi menjadi minoritas. Ibarat kantor pemerintahan yang sulit menemukan keturunan Cina, nah, di kantor saya berlaku kebalikannya.
Ini kali pertama saya merasakan menjadi minoritas, dan rasanya memang serba aneh. Mulai dari anatomi tubuh yang drastis perbedaannya, logat bicara yang kental aksen bahasa mandarin, atau etos kerja yang membuat rekan kerja saya amat disiplin dan fokus pada pekerjaan.Tentu saja ini membuat saya gamang. Disiplin alamat silap buat saya. Satu menit saja terlambat, cela sudah daftar absensi saya. Begitu pula mengenakan kaus di luar hari Jumat, dan mengobrol dengan santai bisa mengundang tatapan aneh orang yang lewat.
Tidak heran prasangka tumbuh pelan-pelan dan ajeg. Walau ada sebagian rekan keturunan yang merasa "aku-kamu sama", atau malah ada teman saya yang dengan tegas mengucap "gue Indonesia".
Kembali pada hari ini. Saya melangkahkan kaki ke kantor yang amat sunyi sejak pagi. Rasanya teduh, melihat ibukota bebas dari bebannya sejenak. Tidak ada kemacetan, asap, dan orang berlalu-lalang tak peduli.
Saya mampir ke toilet, bertemu dengan satu enci yang supel. Ia mengulurkan tangannya dan berucap "minal aidzin wal faidzin"...
Terulang lagi saat saya duduk, rekan bagian IT menghampiri dan menjabat tangan saya. Seorang manajer proyek lewat, dan bertanya tegas "kamu lebaran?" saya iyakan, dan tangan kuatnya menjabat lagi. Ibu manajer yang menempati ruangan di hadapan saya keluar, dan melakukan hal yang sama. Ditambah ucapan staf HRD, bapak security, dan office boy.
Mereka semua apa yang saya katakan "rekan keturunan". Bagi saya lebaran kali ini justru amat bermakna karena saya menerima ucapan selamat, justru dari orang-orang yang saya tak kira akan melakukannya.
Saya percaya salah satu perintah Tuhan adalah menghormati sesama, lepas dari keyakinannya. Kebanyakan umat dan saya, terlalu sibuk beramal untuk sesama muslim, tapi lupa untuk memperkuat jalinan kepada sesama manusia.
Ternyata perusahaan ini tidak sejahat yang orang kira. Di setiap sudutnya masih ada manusia yang punya semangat "memanusiakan".
Selamat berlebaran, selamat menilik apakah Anda merayakan yang benar-benar Anda dapatkan...
Rabu, 22 Juni 2011
Resign
Kemarin sore, dua rekan sekantor punya kegiatan baru. Berkeliling dan berpamitan, karena hari itu adalah hari terakhir bekerja. Belum juga saya kenal keduanya, mereka sudah hengkang disertai dengan ucapan tulus-tak tulus, "sukses ya,"
Berhubung saya tak kenal, maka tak tahu juga sebab pengunduran diri mereka, minimal berasal dari divisi apa. Memang ada satu divisi yang santer isu turn over personal dengan cepat. Tapi saya tak berani memastikan.
Yang pasti, saya pernah berada dalam posisi dua mantan rekan kerja tersebut.
Selama tiga tahun malang melintang dalam dunia pekerjaan, saya baru paham betapa heboh isu si anu mengundurkan diri (resign) jika perusahaan tempat bekerja menetapkan standar ketat soal kepegawaian. Selain itu ia bisa menjadi tolok ukur dari seberapa kuat seseorang pada "seleksi alam" yang berlaku di setiap habitat pekerjaan.
Hampir empat bulan lalu saat saya menandatangani kontrak kerja dengan media massa serius. Dalam perjalanan, saya berhadapan dengan kekagetan bocah baru terjun sebagai jurnalis.
Informasi berhamburan, waktu jadi barang mewah, bidang baru harus dipelajari, tidak ada kata libur selama menjadi jurnalis. Karena ia profesi yang menuntut pengabdian seluruhnya.
Tidak salah, profesi dengan etisnya adalah kehormatan...
Namun menjadi masalah, saat saya mulai merasa lelah. Saat tidak lagi menemukan keasyikan, tertidur setiap malam dengan mimpi deadline laporan, dan terbangun dengan pucat. Hari libur tidak manfaat, pekerjaan adalah teror, perjalanan menjadi beban. Hingga datanglah masa itu, masa tubuh saya berteriak, dan saya terkapar di unit gawat darurat.
Selama dirawat, saya berpikir dalam-dalam, masih inginkah saya bertahan? untuk apa? pekerjaan ini menyakiti tubuh, sumber masalah keseharian. Tapi sisi lain masih bertarung dengan perasaan tidak mau kalah, tidak mau tergeser dari arena seleksi alam, enggan melepas prestise itu.
Tiga minggu sesudah rawat inap, saya ajukan pengunduran diri. Bertepatan dengan tiga bulan pertama bekerja. Rasanya seperti orang jatuh cinta yang baru sadar setelah kehilangan. Setiap melangkah di koridor bergelantungan bingkai foto itu seperti potret buram masa depan yang tak selesai saya jalani.
Perlahan rekan kerja mulai mendengar kabar itu. Ini cobaan lebih berat. Pertanyaan "kenapa" dan asumsi "nggak kuat bertahan" menjadi headline di kantor. Satu per satu saya jelaskan, setiap kata meluncur rasanya tak rela. Jangan hakimi saya kalah, persetan dengan pandangan saya lemah.
Toh harus diakui, saya mundur. Orang bilang kalah, saya bilang ini langkah. Walau mundur, toh tidak membentur tembok. Saya mencari pola lain, yang membebaskan keinginan. Betul saya bakat menulis, tapi belum tentu saya berminat menjadi jurnalis. Banyak orang bilang saya cerdas, tapi si cendekia ini senang menikmati media, bukan menggarapnya.
Hormat mendalam untuk setiap insan yang memuja profesinya, karena itu memang pilihan yang menantang. Sekalipun diam-diam, sebagian mereka juga mengaku ingin juga memundurkan langkah.
Kini saya tengah mencoba area baru, yang teratur dan statis. Apakah ini kemunduran? Tidak juga, karena setelah diingat, ini mimpi yang tertunda, bekerja di kawasan pusat Jakarta.
Saya menang!
Selasa, 21 Juni 2011
Njelimet
Minggu siang ketiga saat gempita merayakan akhir pekan..
Terakhir kali menyambangi blog ini saya memutuskan membuang satu posting berjudul "cepat-cepatan dan banyak-banyakan". Posting ini menandakan puncak dari pamor blog Antasena. Walau berakhirnya harus cepat juga, tapi kini saya awali dengan kembali membuka blog untuk konsumsi umum, dan lebih tabah hati menghadapi publikasi, halah..
Berawal dari ibu. Sejak lama mama adalah tipe wanita yang serba bisa. Bisa memasak, menjahit, berkebun, menata bunga, kerajinan tangan, memarahi anaknya, berdandan, dan bekerja kantoran.
Sekarang ia sedang gandrung dengan aneka kerajinan tangan. Tapi yang menarik ini, origami, seni melipat kertas dari Jepang. Mama berguru pada seorang wanita Jepang di Kelapa Gading.
Suatu malam pulang kantor, ia memperlihatkan satu karyanya, berupa wadah segi enam dan bulat, lengkap dengan tutup. Wadah itu terbuat dari jalinan rumit lipatan kertas. Unik dan cantik.
Lalu saya teringat wadah segi enam ini mirip dengan wadah untuk kue Ekubo yang saya lihat di film 'Memoar of Geisha'.
Berdasarkan buku Memoar of Geisha, Ekubo adalah kue khusus yang diberikan oleh Geisha perawan pada pria-pria pilihan. Maksudnya tidak lain seperti "hoi pak, keperawanan saya siap dilelang".
Baiklah. Ibu saya berkomentar bahwa membuat wadah ini "sangat susah, butuh waktu sesorean, njelimet"..Aha!
Ini topik! Sebenarnya sudah budaya Jepang menyukai kerumitan. Dan dia punya sepupu dekat di sini, budaya Jawa.
Saya tidak bisa membeberkan keabsahan teori konyol-konyolan diatas. Tapi sepanjang saya hobi menelusuri nilai tradisional Jawa atau Jepang, kira-kira begini,
Geisha yang saya sebut diatas adalah cermin kerumitan yang sepadan dibandingkan dengan kerumitan putri Jawa, tanpa memasukkan konteks "fugsi" keduanya.
Geisha berarti pekerja seni. Sekalipun banyak yang mengasosiasikan dengan pekerja seks, namun secara singkat saya kira seks dan seni adalah unsur yang perlu dan sulit diterjemahkan hubungannya.
Karena geisha menjual kebisaannya menghibur dengan seni (walau belakangan juga seks), ia tampil se-artifisial mungkin. Semua orang tahu, wajah berpupur putih sepucat topeng yang tidak wajar, di hiasi dua garis alis hitam, pipi merona bulat, dan bibir mengkuncup merah tomat, itu dia geisha.
Tapi tidak banyak yang paham bahwa setiap unsur yang menempel pada geisha punya makna. Dari ujung kepala hingga kaki, disisipkan arti yang bisa digali semakin dalam seseorang mengenalnya, minimal menelanjangi dengan tatapannya.
Rambut geisha ditata dengan gelungan yang sarat sasak. Bentuk belakangnya sedemikian rupa sehingga tersembul kain merah yang diibaratkan organ intim perempuan. Turun sedikit, bentuk kimono yang cowak di daerah punggung memperlihatkan tengkuk yang digambar seperti huruf 'W'. Katanya pria Jepang menganggap tengkuk dengan pola seperti bayangan itu seksi.
Belum soal kimono. Jubah kebesaran wanita Jepang ini terdiri dari kain bermeter-meter panjangnya. Ia dibalut dengan kencang ke tubuh geisha. Ini bisa jadi petunjuk juga untuk membedakan mana geisha "ting-ting" dan geisha senior atau "tidak perawan". Geisha dengan motif kimono yang ceria, warnanya mencolok, dan kain lapisan dalam berwarna merah, berarti ia masih perawan. Sebaliknya si senior lebih bersahaja dengan motif dan warna yang lembut, serta dalaman berwarna putih.
Soal cari perawan atau tidak juga bisa dilihat dari tusuk konde. Geisha perawan tusuk kondenya meriah. Misalnya kumpulan bunga sakura. Geisha senior motifnya sederhana saja.
Apa kabar dengan putri Jawa? tidak jauh. Dari kepala sampai kaki pun sarat arti. Putri dari kesultanan Agung dan turunannya (Yogyakarta, Solo) saat menikah akan memperlihatkan berpakaian adalah pekerjaan maha besar.
Rambut si putri akan digelung berhias kembang goyang. Kembang ini jumlahnya lima yang mengartikan lima rukun islam. Lalu ada hiasan menyerupai gerbang di kiri-kanan atas pelipis, artinya si perempuan siap memasuki gerbang rumah tangga.
Lalu ada paes, atau motif yang digambar di sekitar dahi perempuan. Bentuknya meruncing, lalu diwarnai hitam pekat. Kedua lengan si perempuan dilingkari gelang yang berbeda bentuk. Maknanya sekitar menjadi penjaga keluarga.
Soal busana, putri Jawa akan terbalut dengan kain batik bermotif drama Rama-Shinta - hikayat klasik yang menceritakan kesucian cinta- dengan harapan rumah tangga akan langgeng seperti kisah Ramayana. Bercerita lewat media wayang soal Ramayana saja butuh semalam suntuk, kebayang deh cerita serupa dituangkan dalam kain...
Untuk menguatkan jalinan kain, ditambahkan ikat pinggang yang disebut pending. Pending berlapis emas ini disertai dengan jalinan bunga, dengan harapan rahim si perempuan subur.
Makna dari berpakaian saja sudah ruwet. hingga geisha punya slogan sendiri bahwa "kecantikan dan penderitaan selalu bersebelahan". Belum dengan ritual lain yang aduhai rumitnya, hingga ia semakin tergeser dan ditinggalkan. Masa kini ideal dengan cepat dan praktis.
Jadi, apa kesimpulan dari kerumitan antara sepupu Jepang dan Jawa? saya juga tidak menemukan yang perlu disimpulkan. Buat saya kerumitan itu indah. Yang menjadikan tradisi itu ketinggalan adalah penghargaan terhadap kehidupan, dan saya berharap kerumitan itu tetap ada sepanjang zaman.
Sekian..
Jumat, 07 Januari 2011
2009 Itu
Apa yang sedang saya rasakan sekarang, tidak ada pengalih pas macam televisi, musik hingar-bingar, atau buku yang asyik, maka saya merasa sepi.
Padahal pekerjaan cukup banyak. Piring menanti untuk dicuci, lantai bisa disapu, atau buku tebal mengenai tata bahasa inggris bisa dibuka. Tapi saya tidak berminat. Kenapa? apa yang salah dengan kesendirian ini? bukankah saya yang menginginkannya?
Betul saya sudah memutuskannya, atau memang ini pilihan yang sama tidak enak. Daripada tinggal di tempat yang saya tidak bernyawa didalamnya, saya memilih kebebasan dengan belenggu lain.
Dari sini lahir konsep penjara. Apa susahnya berdiam diri dalam sel, tidak disiksa, diberi makan, minum, kesempatan hidup.
Hanya tubuhnya saja harus berdiam diri selama beberapa waktu. Itulah deritanya, rantainya, pikiran terdalam yang membungkam kebebasan karena tidak ada sosok manusia dekat-dekat tubuh sosialnya. Ia lapar.
Lalu saya menerawang, pada sosok yang telah lama terbunuh dengan kesendiriannya dan kini menikmati kebersamaan di penghujung senja, ayah.
Belasan tahun lalu, saat usia saya belum genap sewindu, ayah harus menerima menjadi pesakitan hasil perbuatannya. Ia terperosok dalam sangkar "bersalah".
Ia punya keluarga, mantan istri, satu anak, tapi ia tidak bisa merangkulnya. Ia begitu saja, menghabiskan waktu dengan mendengar radio yang melantunkan lagu era 60-an, dan menghisap rokok dengan dalam...lambat...dan menatap jauh.
Hari berganti tahun, ketidakberdayaan beralih dendam, penyesalan bersisa benci. Hingga anak itu telah siap meluncur dalam kegamangan, ayah masih menatap jauh. Rokok adalah kekasih dan anaknya. Tatapan itu tidak hapus sekalipun saya ada didekatnya. Apa yang ia pikirkan?
Pengalaman saling mengunci kehidupan memberi kebekuan yang ganjil. Saya hanya meraba dalam diam, tidak kalah diam dengan ayah. Ternyata dalam bisu, bak filsafat, saya malah berbakat memuntahkan kata-kata.
Jika sejak kecil saya dipaksa untuk memahami arti kekosongan yang absurd, maka setelah dewasa harusnya kosong adalah hal biasa.
Tapi tidak juga, saya lantas panik saat dunia ini menunjukkan dinamika yang cepat.
Orang datang dan pergi, dengan cara sopan atau kurang ajar, dan saya tidak kuasa menahannya. Ia bagaikan arus gelombang, surut pasang, begitu saja.
Lalu bagaimana saya isi hampa ini? saya punya keluarga? dengan format ibu, kakak, suami, dan anak-anaknya, ada. Tapi saya cukup puas melihat dari jauh saja.
Bukan prioritas itu tidak enak.
Lalu ayah saya? kami terpisah jarak ratusan kilometer. Bagaimana dengan kawan? seperti berusaha menemukan huruf 'Z' dalam ejaan 'kawan' itu sendiri.
Tapi saya manusia biasa, yang sewaktu-waktu akan sakit, butuh pertolongan, apa perlu saya bayar seseorang agar menjadi teman setia yang menemani dalam susah dan senang, sendirian atau ramai? atau gunakan jalan pintas, terima saja lamaran seorang pria khilaf.
Kini saya dalam posisi ayah yang melawan kesendiriannya. Ia selamat dan mendapat kebahagiaan, sekalipun ia tetap sama, mendengar radio hingga jauh dini hari. Lantunan lagu lawas rupanya candu.
Saya yang katanya sedang di puncak stamina, harus berjuang untuk apa yang saya inginkan. Mulai dari mana? berlagak pintar dengan jago omong juga percuma. Kini saatnya bergerak, untuk satu tujuan.
Bergerak dari kesepian, teriakan enggan, malas, tidak ini, tidak itu, tidak bla-bla-bla...dan tidak sendiri.
ps : tulisan yang saya temukan dalam file lama. Rasanya perlu diabadikan, sekadar pelawan lupa.
Langgan:
Entri (Atom)









